bandoro's home

to infinity and beyond

Membeli Keramik

with 8 comments


Barusan disuruh beli keramik untuk kamar mandi kos-kosa, dikasih tau alamat toko yg menjual keramik langganan keluarga. Setelah nyampe toko itu, sempet kaget karena toko itu cukup besar dan kelihatannya cukup bergengsi(toko keramik bro) wkwk. Setelah masuk dengan rasa penuh curiga(bener g yaw), aku bulatkan tekadku untuk memasuki toko itu.

Ketika masuk, ada 2 pelayan yang menyambutku. waow, kok sajak elegance gitu. Dengan polosnya aku menunjukkan keramik yg sudah aku bawa dari rumah sebagai contoh. “maaf mas, kami tidak menjual keramik seperti ini. kami menjual satu merek saja”. wkwk. ternyata dugaanku emang benar, toko ini menjual keramik-keramik berkualitas tinggi, maksude yang bermerk. Aku keluar dengan muka malu..hehe. setelah keluar aku menengok kekiri, ada sebuah bangunan yang penuh dengan pasir didepannya, dan alat-alat perbangunan yang ada didepannya. ternyata toko yang dimaksud oleh ibuk tadi  disini. wkwk.

Dengan percaya diri, aku memasuki toko itu, dan membeli keramik sesuai dengan contohnya. oke, pas banget, sama dengan yang aku bawa. kemudian aku beli 2 dos, sekitar Rp77.000 setelah aku membayarnya aku disuruh menunggu. aku diberi kursi dan disuruh menunggu sebentar. dalam hati aku berkata, auwoh, kenapa konsumen dibiarkan menunggu didalam proses jual beli. konsumen cenderung lebih senang kalau pelayanannya ramah, dan cepat. like a fast food bror. hehe.

aku duduk terdiam, melihat lingkungan sekitarku, melihat sistem, proses yang berjalan ditoko itu. banyak yang aku temukan disana ketika menunggu untuk diambilkan keramik yang aku pesan

  1. aku melihat sistem yang mereka pakai, mereka mempekerjakan 2 pekerja perempuan yang bekerja sebagai pelayan toko, 2 laki-laki sebagai kuli bangunan(mengangkut semen, pasir, dll). Kasir dipegang oleh cewek, kelihatannya yang punya tu toko. cukup tertata, mulai dari pembuatan nota sudah sesuai dengan standar untuk menghindari kecurangan, kasir yang dipegang langsung oleh empunya toko.
  2. aku melihat pelayanan yang mereka berikan ketika seseorang membeli pasir disana. bapakku pernah mengeluh ketika membeli pasir disalah satu toko bangunan di solo, katanya pasirnya banyak sekali brangkal(kerikil-kerikil)nya, sehingga pasir yang siap dicampur dengan semen tu dikit banget. bapak merasa dirugikan karena mungkin emang disengaja oleh pemilik toko, menjual pasir yang penuh dengan krikil. huft. TAPI, ketika aku melihat toko ini, 2 pekerja kuli sedang menyiapkan pasir yang dipesan oleh customer untuk diantar menggunakan truk. pekerja itu memasukkan pasir ke truk, tapi sebelum dimasukkan ke truk, pasir itu(yang bercampur dengan kerikil) disaring oleh mereka. WAOW… satu terobosan yang baru. apakah memang pelayanan mereka seperti itu, ataukah permintaan dari pelanggan sendiri.hehe
  3. ketika pengamatanku terhadap pasir sudah selesai, aku melihat 2 pekerja cewek. apa yang mereka lakukan ketika tidak ada pelanggan yang datang. Ternyata mereka standby didepan telfon. menunggu telpon yang masuk dari para pelanggan yang memesan via telf. setelah saya amati, ada hal aneh disini. setelah pelanggan pesan, pekerja itu meminta pelanggan untuk menutup telfonnya, melihat stock barang yang ada. setelah ditutup, e, si pekerja ini kembali menelfon orang lain. ternyata dia menelfon seseorang, pada intinya pekerja ini memesan barang yg dipesan oleh pelanggan tadi ke toko lainnya. semacam makelar. halah. setelah mereka tawar menawar akhirnya pekerja itu menelpon pelanggan, dan kemudian deal.

Kesimpulan yang saya simpulkan sendiri. hehe, bahwa

  1. sistem sudah berjalan dengan baik. tapi ketika saya melihat dari luar, maksudnya kemasan dari toko itu kurang menarik, terkesan kurang tertata. seharusnya pemilik mengemas toko itu, mencentelkan barang-barangnya dengan lebih eksotik. haah
  2. entah pesanan dari pelanggan untuk menyaring, atau memang standar pelayanan mereka seperti itu, tapi yang pasti, dengan penyaringan terlebih dahulu membuat banyak kerugian. dilihat dari pekerja kulinya juga rugi, lebih baik mengerjakan yang lain. dilihat dari pasirnya juga rugi, cz dengan komposisi lebih banyak pasir, maka membutuhkan penyaringan, ah, maksude pie yo, angel njelaskene. hehe
  3. perusahaan ini bekerja sama dengan toko lain untuk melayani pelanggannya
  4. DAAAN, lebih menguatkan statementku yang ketiga, ternyata, aku disuruh menunggu itu, pekerjanya mengambil keramik di toko lain. waaaaow, seandainya aku langsung membeli di TOKO LAIN itu, kemungkinan aku bisa mendapatkan yang lebih murah. huft

Written by bandoro

2 February 2010 at 8:33 am

8 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. woalah..nek pas semesesan trus…”sik delok” ngono kui blonjo keramik tow…oh yayaya..
    gud job! peka pada keadaan sekitar…toko keramik,wkwkw.
    heh, jo ndelok mbak2e trus…aku cembukur lho…hagshags.
    luv u.

    bersukacitalah

    2 February 2010 at 9:53 am

    • Wkwkw,lha piye, kuliah nang ekonomi diajari nonton-nonton sing ga penting ngono kui mau yank,wkwk, ditinjau dari segi psikologi juga bisa kq. mw???wkwk

      bandoro

      2 February 2010 at 9:57 am

      • ow..ow..ow..yuoh..coba dirimu nek komentar dari segi psikologi kayak apa yank??hehe..
        nyat kita tuh…maknyuss nan og,wkwk.

        bersukacitalah

        2 February 2010 at 9:59 am

  2. ban..,golekke SNA terbaru y…,
    krm lwt email aj…,
    trus..,kategorine tmbh pasmod dunk..,
    bt bhn skripsi q…,hehe
    tengkyu…,

    deva

    2 February 2010 at 1:00 pm

  3. good point of view sir!
    kesimpulan no 4 itu lo paling esensial. wkwkwkwk
    itulah negara kita. banyak gak efektifnya!
    termasuk sistem ekonomi…
    we will stay inferior if we think inferior
    harusnya kita mikir koyo orang landa yah..
    parahhh parah

    ASAP

    14 July 2010 at 4:08 pm

  4. “mikir kaya orang landa”….aku ora mudheng mbakz.wkwk

    bandoro

    17 July 2010 at 5:34 am

    • mas mau minta yg bahan mid semesternya pak wartono waktu laporan kinerja yang dirumahsakit

      ima

      24 June 2011 at 3:00 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: